Jumat, 10 Juni 2016

ETERNITY



THE BEGINNING
Dahulu kala, Tuhan menciptakan malaikat sebagai kaki tangannya. Malaikat-malaikat itu dipimpin oleh tiga malaikat utama yang selalu di sisi Tuhan dan taat akan perintah-Nya. Mereka adalah Michael, Gabriel, dan Lucifer. Michael dianugrahi Tuhan dengan keberanian, kejujuran, dan integritas. Gabriel dianugrahi kecantikan seorang dewi dengan ketulusan hati sebening air. Mereka bertiga menjalankan tugas sebagai penjaga ketertiban di surga dan hamba Tuhan yang setia.
Di antara ketiga malaikat kepercayaan Tuhan itu, Lucifer lah yang paling dekat dengan Tuhan. Tuhan membentuk Lucifer sedemikian rupa hingga ia dikatakan paling indah di antara malaikat lainnya. Lucifer jatuh cinta kepada Gabriel dan demikian pula sebaliknya. Mereka diberkahi dengan cinta abadi oleh Tuhan. Keduanya hidup bahagia di surga bersama makhluk lainnya dengan anugerah kemuliaan dari Tuhan.
Setidaknya itulah yang mereka sangka tidak akan pernah berubah selamanya. Sampai pada suatu ketika, Tuhan menciptakan makhluk baru bernama “Adam”. Adam langsung menjadi pusat perhatian dan dibangga-banggakan di surga sejak awal penciptaannya. Bahkan Tuhan menganugerahinya sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluknya yang lain. Tuhan menyeru agar seluruh malaikat, yang tadinya menempati posisi teratas sebagai makhluk kesayangan Tuhan, yang selalu patuh kepada-Nya untuk sujud kepada Adam, Sang makhluk baru yang sempurna itu.
Dari situlah kisah ini berawal. Seluruh malaikat sujud kepada Adam. Termasuk Gabriel dan Michael. Tapi tidak demikian dengan Lucifer. Dengan kecemburuan dan kesombongan ia menentang Tuhan dan menolak untuk ikut bersujud bersama malaikat lainnya. Sebagai salah satu dari tiga malaikat utama sekaligus malaikat yang sangat dekat denga Tuhan, ia menghadap Tuhan dan menyatakan keberatannya untuk sujud kepada Adam.
“Mengapa kau tidak mau bersujud kepada Adam?” tanya Tuhan.
Seluruh makhluk di surga hanya terdiam dengan patuh menonton pembangkangan yang dilakukan oleh salah satu hamba Tuhan yang setia itu.
“Mengapa aku harus bersujud kepada makhluk baru itu, sementara aku jelas-jelas lebih mulia daripada dia?” tanya Lucifer dengan kesombongan yang selama ini sedikit demi sedikit telah memenuhi hatinya.
“Apa yang membuatmu berpikir demikian?” Tuhan bertanya lagi.
“Dia tak lebih hanyalah seonggok lumpur hitam yang kau bentuk sedemikian hingga sementara aku kau ciptakan dari cahaya yang mulia. Aku selalu menaati perintahmu dan menyembahmu serta mencintaimu sementara dia hanyalah makhluk baru nan hina yang belum tentu memikirkanmu. Lantas mengapa aku harus bersujud kepadanya?”
“Sesungguhnya aku mengetahui segala sesuatu. Apa yang membuatmu meragukan kekuasaanku sehingga menolak untuk bersujud kepada Adam?”
“Aku tidak pernah meragukan kekuasaanmu wahai Tuhanku, justru karena itulah aku tidak akan bersujud selain kepadamu.”
Tapi Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya lalu mengusir Lucifer, malaikatnya yang setia itu bersama dengan seluruh pengikutnya keluar dari surga dan mengutuknya dengan kutukan abadi, sehingga Lucifer tak lagi dapat menginjakkan secuilpun tubuhnya memasuki surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan dan kemuliaan. Tuhan menghapus kemuliaan yang diberikan-Nya kepada Lucifer, menurunkan derajatnya menjadi pemimpin golongan iblis, golongan yang penuh dengan kehinaan dan selalu membangkang.
“Sesungguhnya kau termasuk dalam golongan makhluk yang aku tangguhkan sampai hari kiamat untuk menjadi musuh bagi para keturunan Adam.”
“Maka dengan senang hati aku akan menyesatkan keturunan Adam dan membuatnya lalai atas perintahmu, Tuhanku.”
Lalu Tuhan mengusir Lucifer dan seluruh pengikutnya dari surga bersama janji abadi yang telah ia ikrarkan.
Tentu saja Lucifer tidak pergi dengan hanya ikrar abadi itu. Lucifer tidak akan melupakan satu hal. Hanya satu hal yang tidak akan pernah berubah selamanya. Cintanya kepada kekasihnya, Gabriel.
Dari balik tudungnya Gabriel melihat semuanya. Lucifer, kekasihnya. Cintanya. Takdirnya. Meski cahaya kemuliaan itu telah selamanya lenyap dari Lucifer, berganti dengan sosok hina sebagai pemimpin iblis. Lucifer selamanya adalah anugerah Tuhan untuknya.
Bibirnya yang seindah mawar yag merekah membisikkan sebuah nama dengan suara lirih seperti gemerincing lonceng.
“Lucifer...” sebutnya dengan mata seindah permata yang kini diselubungi kesedihan.
“Aku mencintaimu, Gabriel. Akan selalu begitu...”
Lalu sebuah kilatan cahaya mengakhiri seluruh penjuru surga di mana kisah ini berawal.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar