THE BEGINNING
Dahulu
kala, Tuhan menciptakan malaikat sebagai kaki tangannya. Malaikat-malaikat itu
dipimpin oleh tiga malaikat utama yang selalu di sisi Tuhan dan taat akan
perintah-Nya. Mereka adalah Michael, Gabriel, dan Lucifer. Michael dianugrahi
Tuhan dengan keberanian, kejujuran, dan integritas. Gabriel dianugrahi
kecantikan seorang dewi dengan ketulusan hati sebening air. Mereka bertiga
menjalankan tugas sebagai penjaga ketertiban di surga dan hamba Tuhan yang
setia.
Di
antara ketiga malaikat kepercayaan Tuhan itu, Lucifer lah yang paling dekat
dengan Tuhan. Tuhan membentuk Lucifer sedemikian rupa hingga ia dikatakan
paling indah di antara malaikat lainnya. Lucifer jatuh cinta kepada Gabriel dan
demikian pula sebaliknya. Mereka diberkahi dengan cinta abadi oleh Tuhan.
Keduanya hidup bahagia di surga bersama makhluk lainnya dengan anugerah
kemuliaan dari Tuhan.
Setidaknya
itulah yang mereka sangka tidak akan pernah berubah selamanya. Sampai pada
suatu ketika, Tuhan menciptakan makhluk baru bernama “Adam”. Adam langsung
menjadi pusat perhatian dan dibangga-banggakan di surga sejak awal
penciptaannya. Bahkan Tuhan menganugerahinya sebagai makhluk yang paling
sempurna di antara makhluk-makhluknya yang lain. Tuhan menyeru agar seluruh
malaikat, yang tadinya menempati posisi teratas sebagai makhluk kesayangan
Tuhan, yang selalu patuh kepada-Nya untuk sujud kepada Adam, Sang makhluk baru
yang sempurna itu.
Dari
situlah kisah ini berawal. Seluruh malaikat sujud kepada Adam. Termasuk Gabriel
dan Michael. Tapi tidak demikian dengan Lucifer. Dengan kecemburuan dan
kesombongan ia menentang Tuhan dan menolak untuk ikut bersujud bersama malaikat
lainnya. Sebagai salah satu dari tiga malaikat utama sekaligus malaikat yang
sangat dekat denga Tuhan, ia menghadap Tuhan dan menyatakan keberatannya untuk
sujud kepada Adam.
“Mengapa
kau tidak mau bersujud kepada Adam?” tanya Tuhan.
Seluruh
makhluk di surga hanya terdiam dengan patuh menonton pembangkangan yang
dilakukan oleh salah satu hamba Tuhan yang setia itu.
“Mengapa
aku harus bersujud kepada makhluk baru itu, sementara aku jelas-jelas lebih
mulia daripada dia?” tanya Lucifer dengan kesombongan yang selama ini sedikit
demi sedikit telah memenuhi hatinya.
“Apa
yang membuatmu berpikir demikian?” Tuhan bertanya lagi.
“Dia
tak lebih hanyalah seonggok lumpur hitam yang kau bentuk sedemikian hingga
sementara aku kau ciptakan dari cahaya yang mulia. Aku selalu menaati
perintahmu dan menyembahmu serta mencintaimu sementara dia hanyalah makhluk
baru nan hina yang belum tentu memikirkanmu. Lantas mengapa aku harus bersujud
kepadanya?”
“Sesungguhnya
aku mengetahui segala sesuatu. Apa yang membuatmu meragukan kekuasaanku
sehingga menolak untuk bersujud kepada Adam?”
“Aku
tidak pernah meragukan kekuasaanmu wahai Tuhanku, justru karena itulah aku tidak
akan bersujud selain kepadamu.”
Tapi
Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya lalu mengusir Lucifer, malaikatnya yang setia
itu bersama dengan seluruh pengikutnya keluar dari surga dan mengutuknya dengan
kutukan abadi, sehingga Lucifer tak lagi dapat menginjakkan secuilpun tubuhnya
memasuki surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan dan kemuliaan. Tuhan menghapus
kemuliaan yang diberikan-Nya kepada Lucifer, menurunkan derajatnya menjadi
pemimpin golongan iblis, golongan yang penuh dengan kehinaan dan selalu
membangkang.
“Sesungguhnya
kau termasuk dalam golongan makhluk yang aku tangguhkan sampai hari kiamat
untuk menjadi musuh bagi para keturunan Adam.”
“Maka
dengan senang hati aku akan menyesatkan keturunan Adam dan membuatnya lalai
atas perintahmu, Tuhanku.”
Lalu Tuhan
mengusir Lucifer dan seluruh pengikutnya dari surga bersama janji abadi yang
telah ia ikrarkan.
Tentu
saja Lucifer tidak pergi dengan hanya ikrar abadi itu. Lucifer tidak akan
melupakan satu hal. Hanya satu hal yang tidak akan pernah berubah selamanya.
Cintanya kepada kekasihnya, Gabriel.
Dari
balik tudungnya Gabriel melihat semuanya. Lucifer, kekasihnya. Cintanya.
Takdirnya. Meski cahaya kemuliaan itu telah selamanya lenyap dari Lucifer,
berganti dengan sosok hina sebagai pemimpin iblis. Lucifer selamanya adalah
anugerah Tuhan untuknya.
Bibirnya
yang seindah mawar yag merekah membisikkan sebuah nama dengan suara lirih
seperti gemerincing lonceng.
“Lucifer...”
sebutnya dengan mata seindah permata yang kini diselubungi kesedihan.
“Aku
mencintaimu, Gabriel. Akan selalu begitu...”
Lalu
sebuah kilatan cahaya mengakhiri seluruh penjuru surga di mana kisah ini
berawal.
***
